Sebelum menekan tombol rekam, ada tiga angka yang menentukan tampilan videomu: resolusi, frame rate (fps), dan shutter speed. Salah memilih bisa membuat video terlihat patah-patah, terlalu licin seperti sinetron, atau dihiasi garis kedip dari lampu ruangan.

Pengaturan video sebaiknya ditentukan sebelum acara dimulai, bukan di tengah rekaman. Foto: Joe Mabel, CC BY-SA 3.0 via Wikimedia Commons
Resolusi: seberapa detail gambarnya
| Resolusi | Ukuran | Kapan dipakai |
|---|---|---|
| 1080p (Full HD) | 1920 × 1080 | Pilihan utama untuk Reels, TikTok, dan dokumentasi biasa. File lebih kecil, mudah diedit. |
| 4K (UHD) | 3840 × 2160 | Kalau butuh memotong (crop) gambar saat editing, atau untuk video profil yang ditonton di layar besar. |
| 720p | 1280 × 720 | Hindari kecuali memori benar-benar terbatas. |
Instagram dan TikTok menampilkan video dalam ukuran kecil di layar ponsel, jadi 1080p sudah cukup tajam. 4K berguna terutama karena memberi ruang untuk memotong. Misalnya kamu merekam horizontal 4K, lalu memotongnya menjadi vertikal 9:16 tanpa hasil terlihat pecah. Ingat, 4K memakan memori sekitar empat kali lebih banyak dan butuh perangkat editing yang lebih kuat.
Frame rate: berapa gambar per detik
Video adalah rangkaian gambar diam yang diputar cepat. FPS (frames per second) adalah jumlah gambar setiap detik.

Pegangan sederhana: pakai satu frame rate yang sama untuk seluruh proyek. Mencampur 25 dan 30 fps dalam satu video bisa membuat gerakan terasa tersendat. Kalau ada bagian yang ingin diperlambat, rekam bagian itu saja di 60 fps.
Shutter speed dan aturan 180 derajat
Di video, shutter speed menentukan seberapa blur gerakan di setiap frame. Aturan yang dipakai banyak videografer adalah aturan 180 derajat: shutter speed sekitar dua kali frame rate.
| Frame rate | Shutter speed ideal |
|---|---|
| 24 fps | 1/50 |
| 25 fps | 1/50 |
| 30 fps | 1/60 (atau 1/50 di ruangan, lihat bagian berikut) |
| 60 fps | 1/120 (atau 1/100 di ruangan) |
Shutter yang terlalu cepat, misalnya 1/1000 di 25 fps, membuat gerakan terlihat patah-patah seperti stop motion. Shutter yang terlalu lambat membuat gerakan terlalu blur.
Waspada kedip lampu di Indonesia
Listrik di Indonesia memakai frekuensi 50 Hz. Lampu di ruangan, terutama lampu neon dan sebagian lampu LED, berkedip sangat cepat mengikuti frekuensi itu. Mata kita tidak melihatnya, tapi kamera bisa menangkapnya sebagai garis atau kedip yang bergerak di video.

Di luar ruangan dengan cahaya matahari, masalah ini tidak ada, jadi kamu bebas memakai 1/60 atau 1/120. Banyak kamera dan sebagian ponsel punya pengaturan anti-flicker atau frekuensi listrik. Atur ke 50 Hz.
Contoh setelan siap pakai
| Kebutuhan | Resolusi | FPS | Shutter |
|---|---|---|---|
| Reels atau TikTok acara di aula | 1080p | 25 atau 30 | 1/50 |
| Wawancara di ruangan | 1080p atau 4K | 25 | 1/50 |
| Slow motion tari atau lomba di lapangan | 1080p | 60 | 1/120 |
| Slow motion di dalam ruangan | 1080p | 50 atau 60 | 1/100 |
| Video profil prodi | 4K | 25 | 1/50 |
Bagaimana dengan ponsel?
Di aplikasi kamera bawaan, pilihan resolusi dan fps biasanya ada di ikon kecil di pojok layar saat mode video, misalnya HD 30 atau 4K 60. Shutter speed biasanya diatur otomatis, kecuali kamu memakai mode Pro video. Kalau melihat kedip di bawah lampu ruangan, coba ganti ke 25 fps atau aktifkan mode Pro dan atur shutter 1/50.
Setelah pengaturan beres, cek juga white balance supaya warna tidak berubah selama rekaman. Caranya ada di panduan Mengatur White Balance agar Warna Tidak Berubah-ubah.


