Wawancara adalah bahan utama banyak konten prodi: testimoni alumni, profil dosen, atau cerita mahasiswa berprestasi. Masalah yang paling sering muncul bukan kameranya, melainkan suara yang bergema atau tertutup bising dan wajah yang gelap. Dua hal itu bisa diatasi tanpa peralatan mahal.

Wawancara di luar ruangan dengan mikrofon genggam dan pewawancara memakai headphone

Pewawancara memantau suara lewat headphone selama rekaman. Foto: Elya, CC BY-SA 3.0 via Wikimedia Commons

Langkah 1: Pilih lokasi yang tenang

Lokasi menentukan lebih dari separuh kualitas wawancara. Sebelum memilih, berdiri diam selama 30 detik dan dengarkan.

Ciri lokasi wawancara yang baik dan yang sebaiknya dihindari

Kalau ruangan ber-AC, minta izin mematikan AC selama rekaman. Dengungnya sering tidak terasa saat di ruangan, tapi sangat terdengar di rekaman.

Langkah 2: Atur cahaya

Cara paling mudah: cahaya jendela

Dudukkan narasumber menghadap jendela secara menyamping, kira-kira 45 derajat. Cahaya akan menerangi satu sisi wajah lebih terang dari sisi lain, dan itu justru membuat wajah terlihat berdimensi. Jangan biarkan narasumber membelakangi jendela, karena wajahnya akan gelap.

Kalau punya lampu: tiga titik cahaya

Tiga titik cahaya untuk wawancara: key light, fill light, dan back light

Tidak punya reflektor? Kertas karton putih atau papan styrofoam yang dipegang di sisi gelap wajah sudah bekerja dengan baik sebagai fill light.

Langkah 3: Pasang mikrofon

Mikrofon bawaan kamera dan ponsel menangkap suara dari segala arah, termasuk gema ruangan. Untuk wawancara, pakai mikrofon yang dekat dengan mulut narasumber.

Jenis mikrofon Kelebihan Cara pakai
Clip-on (lavalier), kabel atau nirkabel Paling praktis, suara jelas, tidak terlihat mencolok Jepit di kerah atau kancing kedua, sekitar sejengkal di bawah dagu
Shotgun di atas kamera Tidak perlu dipasang di narasumber Arahkan ke mulut, jarak sedekat mungkin, di luar frame
Mikrofon genggam Kokoh, cocok untuk wawancara di lapangan Jarak satu kepalan tangan dari mulut

Hal kecil yang sering terlupa:

  • Sembunyikan kabel clip-on di balik baju supaya tidak terlihat dan tidak bergesekan.
  • Jauhkan mikrofon dari kalung, jilbab yang berbahan kaku, atau kain yang mudah bergesek.
  • Matikan nada dering semua ponsel di ruangan, termasuk milik narasumber.

Langkah 4: Cek suara sebelum mulai

  1. Pakai headphone dan dengarkan langsung dari perangkat perekam.
  2. Minta narasumber menyebutkan nama dan jabatannya. Ini sekaligus menjadi catatan ejaan nama.
  3. Atur level suara supaya indikatornya berada di sekitar -12 dB saat berbicara normal, dan tidak pernah menyentuh merah.
  4. Rekam 10 detik keheningan ruangan (room tone). Editor akan butuh potongan ini untuk menambal jeda.

Langkah 5: Atur posisi kamera dan narasumber

Posisi kamera, narasumber, dan pewawancara dalam rekaman wawancara

Tips mengarahkan narasumber

  • Minta narasumber mengulang pertanyaan dalam jawabannya. Contoh: pertanyaan Kenapa memilih prodi ini? dijawab Saya memilih prodi ini karena.... Dengan begitu, suara pewawancara bisa dipotong.
  • Ajukan pertanyaan terbuka yang dimulai dengan bagaimana atau ceritakan, bukan pertanyaan ya atau tidak.
  • Beri jeda dua detik setelah narasumber selesai menjawab sebelum pertanyaan berikutnya. Jeda ini memudahkan pemotongan.
  • Kalau jawabannya tersendat, minta mengulang dengan santai. Narasumber biasanya lebih lancar di percobaan kedua.

Simpan file audio dan video wawancara dengan nama yang jelas dan langsung buat salinannya. Cara mengelolanya dibahas di panduan Mengelola File, Backup, dan Workflow Produksi Multi-Kamera.